Di Boyolali, khususnya Desa Pentur, Kecamatan Simo, rengginang bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari cerita panjang masyarakat desa yang tumbuh bersama tradisi dan budaya turun-temurun.
Pada masa lalu, rengginang selalu hadir dalam berbagai kegiatan budaya. Salah satu yang paling sakral adalah acara Bersih Desa atau yang dikenal sebagai Merti Desa.
Tradisi ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah dan keselamatan desa sepanjang tahun.
Merti Desa: Ungkapan Syukur Setelah Panen Raya
Merti Desa di Pentur dilaksanakan setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hari pelaksanaannya pun tidak sembarangan.
Untuk dukuh Karang, Mberan, dan Ringin Anom dipilih hari Sabtu Kliwon atau Minggu Kliwon.
Sedangkan dukuh Tegal Rejo dan Rejosari melaksanakannya pada Selasa Kliwon.
Pemilihan hari berdasarkan penanggalan Jawa ini menunjukkan betapa kuatnya nilai tradisi yang masih dijaga.
Merti Desa merupakan simbol rasa syukur masyarakat setelah panen raya. Padi yang dipanen tidak hanya dijual atau disimpan, tetapi sebagian diolah menjadi berbagai makanan untuk dinikmati bersama warga.
Di sinilah rengginang memiliki tempat istimewa, ia dibuat dari hasil bumi dan bisa dinikmati bersama untuk semua warga.
Pagi Hari: Bersih Lingkungan dan Kenduri
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi buta.
Warga bergotong royong membersihkan lingkungan desa dan sumber mata air. Tradisi ini melambangkan harapan agar desa tetap bersih, sehat, dan dijauhkan dari marabahaya.
Sementara itu, ibu-ibu di rumah sibuk memasak.
Mereka menyiapkan nasi, lauk-pauk, jadah ketan, pisang, dan tentu saja rengginang.
Setelah makanan siap, semuanya diletakkan di atas tampah atau nampan besar dan dibawa menuju balai warga.
Sekitar pukul 09.00 pagi, acara kenduri dimulai.
Warga berkumpul, berdoa bersama, dan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan.
Setelah doa selesai, makanan disantap bersama-sama.
Suasana penuh kebersamaan terasa hangat. Tidak ada sekat. Semua duduk sejajar, menikmati hidangan dari hasil kerja sendiri.
Rengginang dalam Bancakan dan Sajian Budaya
Untuk camilan seperti rengginang, sistemnya sedikit berbeda.
Makanan ringan yang dikumpulkan dari warga diserahkan kepada panitia Bersih Desa. Panitia kemudian mengelola dan menyimpannya untuk menjadi sajian dalam rangkaian acara berikutnya, terutama pagelaran wayang kulit pada malam hari.
Rengginang menjadi salah satu sajian penting.
Bersama jadah ketan dan pisang, rengginang melengkapi hidangan tradisional yang disuguhkan kepada para niyaga, dalang, sinden, serta tamu undangan.
Rasanya yang gurih dan renyah cocok dinikmati di sela-sela pertunjukan semalam suntuk.
Kirab Budaya dan Ancak
Sebelum acara utama wayang kulit digelar, siang harinya sekitar pukul 13.00, warga mengadakan kirab budaya.
Dalam kirab tersebut terdapat ancak atau semacam gunungan hasil bumi yang dipanggul oleh empat orang dan diarak keliling desa.
Gunungan ini dihias dengan berbagai hasil pertanian sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur.
Warga mengenakan beragam kostum tradisional.
Ada yang berpakaian adat Jawa, ada pula yang menampilkan kesenian lokal.
Kirab ini menjadi tontonan yang meriah. Selain sebagai pelestarian budaya, kegiatan ini juga menghidupkan perekonomian warga. Banyak pedagang kecil yang berjualan di sekitar lokasi acara.
Tradisi dan ekonomi berjalan beriringan.
Wayang Kulit Semalam Suntuk
Malam hari menjadi puncak acara.
Pagelaran wayang kulit digelar semalam suntuk dengan mengundang berbagai elemen masyarakat.
Dalang, sinden, dan niyaga tampil membawakan lakon yang sarat pesan moral. Wayang bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan penyampaian nilai kehidupan.
Di sela-sela pertunjukan, suguhan makanan dibagikan.
Di antara hidangan tersebut, rengginang tetap hadir.
Renyahnya rengginang menemani alunan gamelan.
Gurihnya menjadi pelengkap hangatnya suasana malam.
Rengginang sebagai Bagian dari Identitas Desa
Bagi masyarakat Pentur, rengginang bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah bagian dari identitas budaya.
Proses pembuatannya pun tak lepas dari hasil panen padi. Beras ketan yang dipanen diolah menjadi rengginang sebagai bentuk syukur atas rezeki bumi.
Dari proses menanak ketan, membentuk, menjemur di bawah terik matahari, hingga akhirnya digoreng saat acara berlangsung — semuanya mencerminkan kesabaran dan gotong royong.
Rengginang mengandung makna kebersamaan.
Ia hadir dalam bancakan.
Ia dibagi tanpa pilih kasih.
Ia dinikmati bersama.
Tradisi yang Terus Hidup
Meski zaman terus berubah, tradisi Merti Desa di Pentur masih dijaga.
Generasi muda mulai kembali mengenal budaya desa.
Wayang kulit tetap digelar.
Kirab budaya tetap dilaksanakan.
Dan rengginang masih menjadi bagian dari sajian.
Di tengah modernisasi, nilai-nilai seperti gotong royong, syukur, dan kebersamaan tetap dipertahankan.
Menghidupkan Kembali Nilai Tradisi Lewat Rengginang
Cerita tentang rengginang dalam Merti Desa ini mengingatkan kita bahwa makanan tradisional bukan sekadar produk.
Ia membawa sejarah.
Ia membawa kenangan.
Ia membawa nilai budaya.
Kini, ketika rengginang diproduksi dan dijual secara lebih luas, semangat tradisi itu tetap bisa dihadirkan.
Setiap keping rengginang adalah pengingat tentang kebersamaan, tentang panen raya, tentang doa pagi, dan tentang wayang kulit semalam suntuk.
Tradisi boleh berkembang, tetapi akar budaya tetap dijaga.





25%